
Kemarin malam, pas lagi asik-asiknya nonton Miami Ink, tiba-tiba gw dikejutkan oleh isi sms yang dikirimkan salah satu sahabat cewek gw sejak kuliah, sebut saja Melon.
“Benn, howcome u never told me about your secret?”
“Hah?!?! What secret?” jawab gw.
“That you’re Gay” balasnya lugas.
Kalo sms itu gw terima 2 tahun lalu mungkin gw akan panik jungkir balik (diperbuas) mencari-cari cara ngeles yang jitu supaya tetep dikira straight. Untung saja dia mengirimkannya sekarang,disaat gw sudah lebih dewasa dalam menyikapinya (ceileh).
Soalnya kurang-lebih bulan Maret tahun lalu, gw secara resmi menyingkap tabir ini ke orang lain diluar mantan-mantan (kesannya banyak, padahal cuma 2) dan beberapa temen senasib. Alasannya, karena gw pengen banget bisa cerita-cerita segala macem dan berbagi kebahagiaan or kesedihan ke sahabat-sahabat terdekat gw yang notabene nggak satupun tau klo gw gay.
Maka, disuatu hari di bulan Maret 2007 itulah gw membuat janji temu di sebuah cafe di Plaza Senayan dengan salah satu teman yang terdekat, seorang gadis cantik bernama Apple (bukan nama sebenarnya). Kenapa gw pilih dia? Karena diantara gang gw sejak kuliah (5 cewek+5 cowok – incl. me), dia yang gw anggep paling open minded. Selain itu, gw belum berniat membuka diri ke temen-temen cowok karena resikonya cukup besar.
“Mo ngomongin apa sih Benn?” tanya Apple sambil menyeruput ice tea. “Ah nggak apa-apa. Kangen aja pengen ketemu lo.” gw mencoba ngeles. “Jangan bohong. Gw udah kenal lo hampir 9 tahun. Pasti ada sesuatu. Bilang gak atau gw pulang nih,” hardik Apple.
Sambil mulai berkeringat dingin, gw yang grogi mulai memainkan handphone di tangan, sementara Apple ngeliatin gw dengan pandangan tajam. Ternyata menyingkap rahasia itu susah banget… Gak sanggup menyampaikannya lewat kata-kata, gw pun mulai menuliskannya di handphone: “I have a dirty little secret. I used to date a guy and still like guy”. Lalu gw sodorkan ke dia untuk dia baca.
Tiba-tiba raut wajahnya berubah, ada sedikit kekecewaan dan amarah disitu. “Lo kecewa ama gw yah?” tanya gw. Dia tetap bergeming. Gw menggenggam tangannya sambil bilang, “Say something please. It’s kinda hard for me.”
“Gw marah.” komentar Apple singkat. Seketika jantung gw serasa diremas. Kebayang rasanya mengecewakan sahabat sendiri.Agak berkaca-kaca gw mengucap lirih, “But I never want to be like this, App.”.
“Bukan itu yang bikin gw marah, Benn. Gw marah dan kecewa kenapa it took you all this year before telling me everything?! Kita tuh udah deket banget! Lo tau semua kekurangan gw. Masa lo nyimpen ini sendirian sih selama bertahun-tahun?” emosi Apple meluap. Gw cuma bisa berbisik pelan, “Sorry”. Dalam hati gw terharu menyadari betapa sayangnya temen gw ini ke gw. Dan di akhir pertemuan itu, ia mengucapkan sesuatu yang cukup membesarkan hati gw, “Know what? Gw support everything that makes you happy. Jangan terlalu terbebani sama pendapat orang. Just be happy, be gay! Dan satu lagi, ga perlu cerita ke anak-anak cowok!”.
Nah, sejak saat itulah i realize that my friends won’t leave me apapun kekurangan gw. Walaupun ampe sekarang masih belom berani cerita ke sahabat yang cowok. That’s why, kemarin malam gw dapat dengan tenang menimpali sms dari Melon, “Yes I am gay. Pasti tau dari Apple yah? Sorry gw belom sempet terbuka sama lo. Belom ada kesempatan aja.”
Dan Melon membalas:
“Ok. No problem with that. You’re being a gay will not change everything dear. Everyone has their dirty laundry. Well, you owe me lots of stories. CU in Bandung yah?”
1 response so far ↓
miHaRu // March 17, 2008 at 5:59 am
whoever you are,whatever you are…you always have and always be the very best friend of mine…