Rise of the Phoenix

Circle of friends

March 24, 2008 · Leave a Comment

23347941.jpg

“Temen gay lo banyak?” begitu tanya teman gw Apple di suatu kesempatan. Kalo berbicara teman gay, mungkin ada banyak gay yang gw kenal. Tapi kalo sahabat, gw hanya punya beberapa saja. Masih bisa dihitung jari satu tangan. Bagi gw itupun sudah cukup, quality over quantity. Apalagi gw juga bukan tipe yang senang kumpul-kumpul di kelompok-kelompok gay.

 

Masing-masing sahabat gay gw ini memiliki karakter yang berbeda-beda. Dan mereka ini tidak kenal satu sama lain loh. Well, mungkin lewat cerita gw mereka tau ada si A, ada si B, dst. Tapi sama sekali mereka belum pernah saling kenal dan bertatap muka. Satu-satunya persamaan mereka adalah: they’re my gay best friends. Let’s see who are they (semua nama samaran):

 

  1. Lemur

Age: 24 yo

Location: Jakarta

Job: PR

I like him because: We have plenty in common in personality. Too many similarity. He’s so me and I’m so him. We’re so close and always connected almost everyday. We know what’s inside each other’s head n heart very well, even way more than our boyfriends (if there any). Platonic? Umm… dunno.

 

  1. Panda

Age: 24 yo

Location: Bandung/Palembang

Job: Engineer

I like him because: Simple. We love the same musics, movies, interests and hobby. We both love movies, E! Channel, singing, music, coffee, writing, blogging, joking, and hang out!

 

  1. Elang

Age: 23 yo

Location: Bandung

Job: IT

I like him because: He’s so reliable. Yeap, whenever I feel like I need a companion. He’ll be at my side in a zap. Whenever I go to Bandung, I just give him a call and an hour later we meet in a theater or café or mall. And still awake until 5 in the morning. A very cool and photogenic guy.

 

  1. Windu

Age: 22 yo

Location: Bogor

Job: Final year college student

I like him because: He’s smart, honest, polite and sometimes naïve. And most of all he’s so fun to be with.

 

 

 

Itulah gambaran singkat tentang segelintir sahabat gw yang semuanya sudah gw kenal lebih dari dua tahun. Bahkan si Elang sudah gw kenal mungkin hampir empat tahun. Dan meskipun hanya satu yang berdomisili di Jakarta, tapi sampai sekarang gw masih rajin berkomunikasi dengan mereka baik melalui e-mail, YM, sms atau telepon.

Btw, pada heran nggak kok semuanya berusia dibawah gw? Sumpah, bukannya gw penggemar brondong. Cuma kalo kata mereka sih, selain sebagai sahabat, gw bagi mereka seperti sosok abang yang bisa diandalkan (cieeeh… hehehe).

→ Leave a CommentCategories: Being Gay

My reasons to stay single

March 17, 2008 · Leave a Comment

 42-15321139.jpg
10.
I never have to worry about saying what I think, or having to pretend that I am thinking something that I am not.

09.
To fall in love means to risk your heart of getting hurt because love is not love until you hurt the one you love.

08.
I have more time to enjoy serenity because I am no longer subjected to her never ending emotional storms.

07.
When I am single, there is a LOT less drama in my life!

06.
I don’t have to compromise especially in doing things that I don’t favour.

05.
I enjoy being single because honestly, I have lots of free time to spend with my friends and my buddies with no limit at all.

04.
I am still recovering from a serious break-up and I need time to heal my own feelings.

03.
I can tell people that I am single and not have to lie about it.

02.
I am still single because up until this moment I still have not find my true love.

01.
I can tell you this very first reason but then I have to kill you!

→ Leave a CommentCategories: Me

Cute Neighbours

March 17, 2008 · 1 Comment

gay-neighbour.jpg

Udah hampir 3 tahun gw tinggal bareng kakak di sebuah kompleks perumahan di pinggiran kota Jakarta. Ajaibnya, sampe sekarang nggak lebih dari 5 orang tetangga yang gw kenal namanya atau orangnya.

Itu pun gw tau namanya atau orangnya dari cerita-cerita kakak gw atau pembantu rumah. Dari mereka gw tau kalo keluarga yang di sebelah kanan rumah punya toko kelontong yang cukup besar di pasar. Bapak A yang rumahnya di seberang rumah gw istrinya kerja di Sumatera dan pulang sebulan sekali. Si anu, anu, anu, anu, dll.

Maklumin aja, selama hampir 3 tahun itu hampir tiap hari gw berangkat jam 6 dan pulang ke rumah jam 8 malem. Jadi kapan waktu sosialisasi? Sabtu-minggu pun seringnya gw cuma tiduran di rumah nonton dvd atau keluar nongkrong sama temen di mall, bioskop atau cafe. Sampai hari Minggu kemarin.

Ga tau kenapa di hari minggu kemarin gw bisa bangun jam 6.30 (biasanya jam 10an, hehehehe). Berhubung perut laper berat, gw memutuskan duduk-duduk di teras rumah sambil nungguin entah itu tukang bubur, tukang ketoprak atau tukang kue. Eh gak disangka gak dinyana, lewatlah seorang pemuda tampan 23-25an menggandeng anak balita yang sepertinya adik atau keponakannya. Sebagai gay yang normal (kalimat yang membingungkan), mata gw langsung mengikuti arah pemuda tersebut. What the!?! Ternyata dia memasuki dua rumah di sebelah kiri rumah gw.

Tidak lama kemudian lewat lagi pria muda (lagi-lagi) dengan fisik yang amat menggoda. Kelihatannya dia habis jogging, mengenakan kaos buntung, celana basket dan sepatu kets berwarna putih. Dengan peluh di dahi dan bajunya…. Man he’s HOTT! (with double “T”), pemuda itu sempat menengok ke arah gw, dan gw senyum sedikit dan menganggukan kepala. Dia pun membalasnya sambil terus berlalu. Hingga ia berhanti di rumah berpagar cokelat di sebelah kanan taman kompleks diseberang rumah gw.

Kejadian-kejadian itu membuat gw perpikir, “Where have I been!?!?!” “Howcome i never know about those cute neighbours??” Kayaknya mulai sekarang gw harus rajin-rajin bersosialisasi nih. Mungkin hari Minggu besok gw akan mengajak keponakan gw yang berusia 3 tahun berjalan-jalan di taman ;)

→ 1 CommentCategories: home sweet home

Pelecehan

March 14, 2008 · 4 Comments

harrassment.jpg

Di jaman sekarang, namanya pelecehan seksual bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Korbannya pun bukan melulu perempuan. Laki-laki pun sama fragile-nya untuk masalah ini. Baik oleh pelaku perempuan maupun sesama laki-laki. Dan entah mengapa… Nggak tau salahnya dimana, gw termasuk orang yang sering mengalami hal ini. Di tempat-tempat publik!
Sebagai gay, gw jujur aja secara fisik bukan masuk dalam kategori/stereotipe laki-laki yang digila-gilai oleh sesama laki-laki. Pertama, walau nggak kurus kering atau gendut, tapi gw jauh dari atletis. Satu-satunya olahraga gw cuma jalan kaki menuju lantai kantor gw, atau mengejar bis kota. Kedua, gw nggak putih. I’m a natural brown. Dan ketiga, dalam hal berpakaian gw nggak aneh-aneh apalagi metroseksual. Ke kantor aja kadang cuma pake jeans belel, sepatu converse dan kemeja berwarna aman (blue, brown, black, maroon, etc). Kenapa gw ungkit fisik gw dulu? Karena gw pernah baca kalau kaum gay itu dalam mencari pasangan selalu melihat fisik sebagar kualitas nomor satu. Meminjam quote dari sebuah film gay yang pernah gw tonton (lupa judulnya), “Gay is like number 9 looking for number 10 and number 10 looking for number 11.” Jadi kalo nilai fisik lo pas-pasan kaya gw (berusaha pede dengan memberi nilai diri sendiri: 7.5), selamat berjuang deh! Hal ini berkebalikan dengan kaum lesbian, yang menurut penelitian yang sama menaruh kriteria fisik dinomor sekian dibawah ikatan emosi dan perasaan aman.

Ok, lanjut. Selain fisik gw yang menurut gw tidak layak untuk dilecehkan, ada hal-hal lain dari gw yang membuat gw sangat-sangat tidak layak untuk dilecehkan. Pertama, saat berada ditempat umum seorang diri, gw mempunyai kecenderungan untuk memasang wajah cuek dan cenderung tak bersahabat (lebih cocok buat digebukkin kan daripada digrepe-grepe?). Malah aksesoris wajib gw saat berada di tempat umum adalah mp3player/iPod dengan earphone yang senantiasa ada di telinga gw meskipun kadang lagunya nggak gw puter. Tujuannya: supaya gak diganggu orang yang ngajak ngobrol ato tanya ini-itu.

Tapi kenapa!?!?!?!?! *sambil berteriak di tepi laut – www.diperbuas.com*

Kejadian pertama (yang gw inget): Gw masih SMU. Kebetulan dibelakang rumah gw ada lapangan bola yang sering dijadikan venue pasar malam dan selalu rame. Jadi klo di rumah lagi bete, gw suka kesitu malem-malem. Pada suat malam, gw baru aja masuk ke pasar malam itu, jadi diantara ratusan orang yang berlalu lalang kian kemari gw menengadahkan kepala dan mata gw sibuk mencari-cari atraksi yang menarik perhatian gw. Suddenly…. Ouch! Someone grabbed my crotch!! Kemaluan gw digenggam seseorang! Gw kaget dan langsung celingukan mencari si pelaku. Tapi orang begitu banyak lalu lalang disekitar gw, dan gw gagal menemukannya. It was a frightening experience for me. Mood gw langsung down dan gw memutuskan balik ke rumah.

Kejadian kedua: Saat gw baru kuliah di Bandung. Ceritanya gw baru balik nonton midnight ama temen gw. Setelah nganterin temen gw (cewek) ke kostannya, sekitar jam 1 malem gw pun pulang ke kostan gw naek angkot karena jaraknya lumayan. Di dalem angkot seinget gw cuma ada 2 orang selain supir yang duduk didepan mengendali angkot supaya baik jalannya (halah). Seorang kakek yang kayaknya baru pulang berjualan dan seorang pemuda (sedikit lebih tua daripada gw waktu itu) berkaos oblong-celana basket-sepatu basket dan menenteng tas ransel yang sepertinya berisi bola basket (what was he doing at 1 am in those outfits??!). Tak lama kemudian si kakek turun. Didalam angkot tinggal gw dan si anak basket. Segitu luasnya angkot kosong, tau-tau dia bergeser duduknya sampe mepet ke gw yang duduk di pojokan. Gw udah mulai deg-degan tuh. Eh bener aja, betisnya digesek-gesekin ke betis gw dong (Gw juga bercelana pendek), berulang-ulang! Walau sedikit ngeri, gw tetep pasang tampak as if nothing happened. Untungnya gak begitu lama dia turun duluan. Fyuuuh…

Kejadian ketiga: Tahun lalu, sudah bekerja di Jakarta. Gw sering banget lembur. Di Kamis malem itu (yup i remember the day exactly) gw pulang jam 11 malem. Kalo dari depan kantor naek bis patas AC sampe rumah gw kira-kira sejam. Makanya gw suka tidur di bis, seperti halnya yang gw lakukan malam itu. Lagi asyik-asyiknya terlelap, gw terbangunkan oleh sebuah sentuhan. Dalam bis gelap dan sepi itu pria berusaha 30an (lumayan sih tampangnya) yang duduk di sebelah kiri gw sedang meletakkan tangan kananya di bagian dalam paha gw!! Otomatis gw nengok ke dia sambil melotot, dia pun langsung melepas tangannya. Gw mencoba tidur lagi, mo pindah kursi males, orang gw duluan yang duduk disitu. Gosh he repeated it again dan tanpa basa basi tangan kiri gw ditarik dan ditaro diatas selangkangan dia yang udah memadat. OK that’s enuff, kata gw dalam hati. Gw memutuskan untuk pindah duduk ke bangku paling depan deket supir.

Kejadian keempat: Tahun lalu juga, di dalam Transjakarta. Pada tau kan sumpeknya busway di jam pulang kantor? Di perjalanan menuju Plaza Indonesia untuk bertemu temen, malam itu busway agak tersendat karena baru hujan dan macet luar biasa, jadi jalur busway diserobot kendaraan lain. Pose standard gw di Transjakarta: tangan kanan bergantung ke hanger, tangan kiri bergantung di luar kantong celana dengan jempol mengait ke dalam kantong. Dalam keadaan berdesakan hampir tak dapat bergerak, tau-tau ada yang menggenggam tangan kiri gw! Panik, gw menghentak tangan gw dan langsung gw naekin. Ternyata om-om yang disebelah gw senyum-senyum sok asyik gitu, sementara gw mengernyitkan dahi. Eh dia lanjut dong, nyolek-nyolek paha gw pake telunjuknya.  Terus sampe gw turun di PI. Anjritt!! Mo gw teriakkin gw malu ama yang laen. That was the longest journey to PI.

Kejadian terakhir: Beberapa hari lalu, lagi-lagi di Transjakarta yang sesak dan padat. Seorang brondong (awal 20tahun, oriental, slim)  yang berdiri didepan gw menggoyang-goyangkan pantatnya ke selangkangan gw. Bego banget, kagak kepikiran apa klo ada yang liat? Gw munduran dikit eh dia ikut mundur dan goyang-goyangin pantatnya maju mundur lagi…. Kesal, gw akhirnya berbalik badan. Apa coba yang dia lakukan???  Dia juga berbalik badan dan sekarang posisinya dia menggerak-gerakan selangkangannya ke pantat gw!! Dan kerasa banget tuh kalo dia udah ngaceng berat. Untung cuma sebentar, soalnya di halte berikut banyak yang turun dan Transjakarta jadi lega lagi. Dia beberapa kali senyum ke gw, tapi gw pura-pura gak liat atau membuang muka.

Mungkin bagi sebagian gay itu adalah peluang untuk menemukan jodoh. Tapi bagi gw, pendekatan dengan cara-cara seperti itu sama sekali gak ELEGAN! gak BERKELAS! dan KAMPUNGAN! Kalo mo kenalan ajak ngobrol dong, atau senyum atau apa kek. Banyak kok cara lain yang lebih reasonable daripada langsung hajar maen fisik.

→ 4 CommentsCategories: Being Gay

Secret – Coz everyone has a dirty laundry

March 11, 2008 · 1 Comment

secret.jpg

Kemarin malam, pas lagi asik-asiknya nonton Miami Ink, tiba-tiba gw dikejutkan oleh isi sms yang dikirimkan salah satu sahabat cewek gw sejak kuliah, sebut saja Melon.

“Benn, howcome u never told me about your secret?”

“Hah?!?! What secret?” jawab gw.

“That you’re Gay” balasnya lugas.

Kalo sms itu gw terima 2 tahun lalu mungkin gw akan panik jungkir balik (diperbuas) mencari-cari cara ngeles yang jitu supaya tetep dikira straight. Untung saja dia mengirimkannya sekarang,disaat gw sudah lebih dewasa dalam menyikapinya (ceileh).

Soalnya kurang-lebih bulan Maret tahun lalu, gw secara resmi menyingkap tabir ini ke orang lain diluar mantan-mantan (kesannya banyak, padahal cuma 2) dan beberapa temen senasib. Alasannya, karena gw pengen banget bisa cerita-cerita segala macem dan berbagi kebahagiaan or kesedihan ke sahabat-sahabat terdekat gw yang notabene nggak satupun tau klo gw gay.

Maka, disuatu hari di bulan Maret 2007 itulah gw membuat janji temu di sebuah cafe di Plaza Senayan dengan salah satu teman yang terdekat, seorang gadis cantik bernama Apple (bukan nama sebenarnya). Kenapa gw pilih dia? Karena diantara gang gw sejak kuliah (5 cewek+5 cowok – incl. me), dia yang gw anggep paling open minded. Selain itu, gw belum berniat membuka diri ke temen-temen cowok karena resikonya cukup besar.

“Mo ngomongin apa sih Benn?” tanya Apple sambil menyeruput ice tea. “Ah nggak apa-apa. Kangen aja pengen ketemu lo.” gw mencoba ngeles. “Jangan bohong. Gw udah kenal lo hampir 9 tahun. Pasti ada sesuatu. Bilang gak atau gw pulang nih,” hardik Apple.

Sambil mulai berkeringat dingin, gw yang grogi mulai memainkan handphone di tangan, sementara Apple ngeliatin gw dengan pandangan tajam. Ternyata menyingkap rahasia itu susah banget… Gak sanggup menyampaikannya lewat kata-kata, gw pun mulai menuliskannya di handphone: “I have a dirty little secret. I used to date a guy and still like guy”. Lalu gw sodorkan ke dia untuk dia baca.

Tiba-tiba raut wajahnya berubah, ada sedikit kekecewaan dan amarah disitu. “Lo kecewa ama gw yah?” tanya gw. Dia tetap bergeming. Gw menggenggam tangannya sambil bilang, “Say something please. It’s kinda hard for me.”

“Gw marah.” komentar Apple singkat. Seketika jantung gw serasa diremas. Kebayang rasanya mengecewakan sahabat sendiri.Agak berkaca-kaca gw mengucap lirih, “But I never want to be like this, App.”.

“Bukan itu yang bikin gw marah, Benn. Gw marah dan kecewa kenapa it took you all this year before telling me everything?! Kita tuh udah deket banget! Lo tau semua kekurangan gw. Masa lo nyimpen ini sendirian sih selama bertahun-tahun?” emosi Apple meluap. Gw cuma bisa berbisik pelan, “Sorry”. Dalam hati gw terharu menyadari betapa sayangnya temen gw ini ke gw. Dan di akhir pertemuan itu, ia mengucapkan sesuatu yang cukup membesarkan hati gw, “Know what? Gw support everything that makes you happy. Jangan terlalu terbebani sama pendapat orang. Just be happy, be gay! Dan satu lagi, ga perlu cerita ke anak-anak cowok!”.

Nah, sejak saat itulah i realize that my friends won’t leave me apapun kekurangan gw. Walaupun ampe sekarang masih belom berani cerita ke sahabat yang cowok. That’s why, kemarin malam gw dapat dengan tenang menimpali sms dari Melon, “Yes I am gay. Pasti tau dari Apple yah? Sorry gw belom sempet terbuka sama lo. Belom ada kesempatan aja.”

Dan Melon membalas:

“Ok. No problem with that. You’re being a gay will not change everything dear. Everyone has their dirty laundry. Well, you owe me lots of stories. CU in Bandung yah?”

→ 1 CommentCategories: Being Gay

DiViDi

March 11, 2008 · Leave a Comment

Hobi gw nonton film. I love movies… evry kind of movies, terutama film-film kelas A dan kelas festival. Dan salah satu perwujudan kesukaan gw terhadap film adalah dengan cara mengoleksi film-film tersebut dalam bentuk DVD.

Koleksi DVD gw banyak banget, walaupun tidak sebanyak dulu lagi karena udah dibuangin kakak gw (aaargh!). Alasannya, “Udah pada ditonton kan? Ya udah aku buang-buangin aja. Emang kamu koleksi yah? Wah maaf….”.

Gw Cuma bisa manyun aja ngebayangin A Clockwork Orange, The English Patient, Cinema Paradiso, Big Fish, dan lain-lain teronggok di tempat sampah. Huhuhu…. Koleksi-koleksi itu sekarang gw simpen dalam berbinder-binder yang gw bagi ke dalam 4 kelompok: Hollywood Movies, Non-Hollywood, Asian dan TV Series.

Belakangan ini gw memberanikan diri membeli DVD-DVD bertema homoseksual, meski saat membelinya gw selalu celingak-celinguk dulu dan mencoba menyamar dengan jaket bertudung (nggak banget yah?). Sebut saja: Shortbus, Eternal Summer, No Regret, Another Gay Movie dan Marisco Beach dan lain-lain. Ada yang menurut gw bagus ada juga yang Cuma mengumbar sensualitas tanpa memperhatikan mutu, hanya ingin mengambil celah pasar saja.

The problem is….gw nggak mau keluarga gw menemukan DVD-DVD itu diantara koleksi gw (Yup, gw tinggal dengan kakak dan suaminya), soalnya kakak-kakak gw suka ngoprek koleksi DVD gw. I have a very smart sister+brother in law, dan mereka pasti bakal realize something klo menemukan DVD bertema gay banyak berada di koleksi gw. Akhirnya meskipun berat hati, beberapa gw kasih-kasih ke temen gw dan ada yang gw buang (Hiks!).

Tapi ada satu-dua yang tetep gw simpen, yaitu Marisco Beach. Why? Soalnya ini film komedi Perancis. Dan menurut gw termasuk aman untuk dikoleksi, jadi dia masuk folder Non-Hollywood Movies.

Bagaimana dengan film-film bokep a.k.a film porno??? Klo film porno straight mungkin kakak saya akan memahami dengan dalih: “Namanya juga cowok”. Tapi masalahnya bokep yang gw punya adalah male to male porn atau Bokep GAY!! Gw takut menyimpan film-film ini tapi di lain pihak gw suka (hehehe, jd malu). Untuk sementara terpaksa cara tradisional pun gw lakukan: menaruhnya di bawah tumpukan baju di dalam lemari gw (yang tak berkunci sambil berharap-harap semoga tidak ditemukan orang.).

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized
Tagged: ,

Hello world!

March 11, 2008 · 1 Comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

→ 1 CommentCategories: Uncategorized